Kita semua pernah dengar cerita horor. Website telat berbulan-bulan, budget membengkak, dan yang paling parah: hasilnya nggak sesuai ekspektasi. Masalahnya, sebagai pemilik bisnis yang non-teknis, gimana sih cara kita nge-bedain perusahaan web development yang beneran bagus dari yang jago jual janji doang? Ini bukan tentang ngetes skill teknis mereka. Tapi tentang mengungkap DNA perusahaan mereka yang sebenarnya.
Yang Perlu Lo Tanya, Bukan Cuma “Bisa Bikin Website Nggak?”
Karena hampir semua bisa. Tapi nggak semua bisa jadi partner yang jujur dan transparan. Berikut 10 pertanyaan yang bakal bantu lo ngertiin siapa mereka sebenernya.
- “Bisa ceritain 3 proyek yang menurut kalian gagal atau nggak sesuai ekspektasi? Apa yang kalian pelajari dari sana?”
Ini jauh lebih jitu daripada minta portfolio sukses. Perusahaan yang jujur akan ngakuin mereka pernah gagal dan punya proses belajar. Yang bermasalah? Mereka bakal bilang, “Semua proyek kami sukses.” Itu bohong. - “Siapa satu orang yang akan jadi single point of contact saya? Dan bagaimana proses komunikasi mingguan kita?”
Kalo jawabannya, “Tim kami yang akan handle,” itu alarm bahaya. Lo butuh satu orang yang ngerti semua cerita, bukan bolak-balik ditanyain ke orang lain. Sebuah survei terhadap 50 startup founder nemuin bahwa 65% masalah dalam proyek web development bermula dari komunikasi yang berantakan, bukan kemampuan teknis. - “Bagaimana mekanisme change request atau permintaan tambahan di tengah proyek? Bisa kasih contoh biayanya?”
Ini jebakan Batman. Perusahaan yang transparan akan punya sistem jelas untuk handle ini, plus contoh tariff yang realistis. Yang nggak jelas bakal bilang, “Nanti kita bicarakan saja,” yang artinya “Siap-siap dikenai biaya semaunya.” - “Setelah website launcing, apa yang terjadi pada kode sumber dan akses server? Apakah sepenuhnya diserahkan ke saya?”
Ini soal kemandirian lo kedepannya. Mitra yang baik akan kasih akses penuh. Yang nakal akan “menyandera” kode dan akses website lo, jadi lo tergantung sama mereka selamanya. - “Bisakah saya berbicara dengan 1-2 klien lama yang proyeknya mirip dengan yang saya inginkan?”
Jangan mau cuma dikasih link testimoni di website. Minta kontak langsung. Kalo mereka nolak atau nunda-nunda, itu pertanda buruk. - “Bagaimana strategi backup dan keamanan website? Seberapa sering dan di mana backup-nya disimpan?”
Jawaban seperti “Otomatis oleh server” itu nggak cukup. Mereka harus bisa jelasin prosedur yang spesifik. Ini nyawa website lo. - “Bagian apa dari proyek ini yang biasanya jadi tantangan terbesar bagi klien dengan profil seperti saya?”
Pertanyaan ini nunjukin apakah mereka udah pernah ngelamin dan paham tantangan bisnis lo. Bukan cuma jual template jawaban. - “Apa yang TIDAK termasuk dalam harga penawaran ini? Biaya tersembunyi apa yang mungkin muncul nanti?”
Paksa mereka untuk jujur dari awal. Biaya domain? Hosting tahun kedua? Maintenance? SSL certificate? Tulis hitam di atas putih. - “Bagaimana alur onboarding-nya? Dokumen atau materi apa yang perlu saya siapkan di minggu pertama?”
Perusahaan yang terstruktur punya checklist jelas. Yang nggak, bakal bikin lo lari-lari cari materi sendiri tanpa arahan. - “Aku ini butuhnya A, B, C. Menurut tim kalian, fitur mana yang paling kritikal buat aku fokusin di fase pertama, dan mana yang bisa ditunda?”
Ini ngetes apakah mereka mikir demi kesuksesan lo, atau cuma mau ngejual fitur sebanyak-banyaknya. Mitra yang baik akan kasih saran strategis, bukan cuma iyain semua permintaan lo.
Tapi, Juga Perhatikan Apa yang Tidak Mereka Katakan
Kesalahan kita seringkali adalah terlalu fokus pada jawaban, tapi lupa sama “vibe”-nya.
- Mereka Menghindari Pertanyaan Spesifik. Kalo lo tanya detail, jawabannya melayang-layang dan penuh jargon teknis. Itu artinya mereka mungkin nggak berpengalaman.
- Menggampangkan Semua Permintaan. “Bisa banget, pak. Gampang.” Hati-hati. Proyek yang kompleks itu selalu ada tantangannya. Yang menggampangkan biasanya nggak ngerti kompleksitasnya.
- Tidak Punya Rasa Ingin Tahu tentang Bisnis Lo. Mereka nggak nanya “kenapa” di balik permintaan lo. Padahal, partner sejati harus paham tujuan bisnis lo, bukan cuma jadi tukang ketik perintah.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan dengan Jawaban Mereka?
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah alat screening, bukan kuis. Dengarkan baik-baik.
- Catat dan Bandingkan. Jangan hanya mengandalkan ingatan. Catat jawaban dari 2-3 calon vendor, lalu bandingkan tingkat kejujuran dan transparansinya.
- Trust Your Gut. Kalau ada yang terasa “off” atau terlalu bagus untuk jadi kenyataan, kemungkinan besar memang begitu. Insting bisnis lo itu ada karena suatu alasan.
- Yang Paling Mahal Belum Tentu yang Terbaik. Yang Paling ‘Ngena’ Justru yang Terbaik. Pilih vendor yang jawabannya membuat lo merasa tenang dan percaya, bukan yang cuma kasih harga murah atau janji muluk.
Memilih perusahaan web development itu seperti memilih co-founder untuk proyek digital Anda. Bukan tentang siapa yang paling murah atau paling cepat janjinya. Tapi tentang menemukan partner dengan DNA perusahaan yang jujur, transparan, dan benar-benar peduli pada kesuksesan Anda. Waktu yang Anda habiskan untuk proses seleksi yang ketat ini akan menghemat uang, waktu, dan mental Anda yang berharga di kemudian hari.



