Dari Portofolio ke Proses: 5 Pertanyaan untuk Mengungkap Kualitas Sebenarnya Sebuah Web Dev Company
Uncategorized

Dari Portofolio ke Proses: 5 Pertanyaan untuk Mengungkap Kualitas Sebenarnya Sebuah Web Dev Company

Portofolio Mereka Bisa Saja Keren. Tapi Itu Proyek Lalu. Website Lo yang Sekarang, Gimana? 5 Pertanyaan Ini Bakal Bongkar Kualitas Web Dev Company yang Sebenarnya.

Lo lagi cari web dev company. Sudah buka-buka website mereka. Portfolio-nya wah, kliennya mentereng. Desainnya clean banget. Proposalnya rapi, penuh istilah teknis yang bikin lo ngerasa “wah, mereka expert nih.”

Tapi tunggu dulu.

Portofolio itu cuma highlight reel. Seperti Instagram. Yang nggak keliatan adalah proses di balik layar—proses yang bakal tentuin apakah website lo nanti selesai tepat waktu, sesuai budget, dan yang paling penting: bener-bener jalan buat bisnis lo.

Jadi, lo harus jadi detektif. Bukan cuma nilai hasil akhir, tapi autopsi prosesnya. Karena yang bikin atau yang ngerusak, itu semua terjadi di process.

5 Pertanyaan yang Bikin Mereka “Kesandung”, Kalau Prosesnya Berantakan:

  1. “Bisa gue ketemu atau briefing langsung sama developer/team lead yang bakal pegang project, bukan cuma sama sales-nya?”
  • Yang Lo Cari: Red flag terbesar adalah kalau mereka nolak, atau bilang, “Nanti aja pas kick-off.” Proyek web itu soal chemistry dan komunikasi. Lo harus tau siapa yang bakal lo ajak kerja sama 3-6 bulan ke depan. Contoh kasus nyata: Sebuah startup mau bikin e-commerce. Mereka cuma ketemu sales. Hasilnya, developer-nya ternyata junior banget dan komunikasi lelet. Spesifikasi meleset jauh. Lo mau cuma ngobrol sama marketing-nya doang?
  1. “Bisa kasih contoh 1-2 challenge teknis paling ribet di project portfolio yang mirip kebutuhan gue, dan gimana tim lo solve itu?”
  • Yang Lo Cari: Ini bedain yang cuma executor sama yang problem solver. Company yang bagus bakal excited cerita. “Oh iya, untuk klien marketplace itu, cart abandonment-nya tinggi. Setelah analisis, ternyata proses checkout 5 langkah. Kita redesign jadi 1 halaman dengan auto-fill, dan integrasi payment gateway-nya kita custom biar lebih stabil. Butuh 2 minggu diskusi sama provider.” LSI keyword: seleksi vendor web development, proses development website. Mereka paham why di balik what.
  1. “Di tahap testing dan handover, bagaimana cara lo memastikan client (yang mungkin gak teknis) bisa mengelola konten dan laporan dasar dengan benar?”
  • Yang Lo Cari: Ini ujian empati dan after-sales. Company yang bener biasanya punya checklist: video tutorial singkat per modul, dokumen user guide sederhana, dan minimal 1-2 sesi training online buat tim lo. Kalau jawabannya cuma, “Kami kasih admin panel, tinggal pakai,” itu artinya mereka cuma jual produk, bukan partnership. Data internal sebuah asosiasi digital menunjukkan, 70% konflik post-launch berakar dari ekspektasi manajemen konten yang nggak diselaraskan sejak awal.
  1. “Bagaimana flow revisi atau change request setelah design approval? Apa ada limit-nya, dan bagaimana tracking-nya biar nggak ada yang lost?”
  • Yang Lo Cari: Ini jantung dari manajemen proyek. Mereka harus punya sistem yang jelas. Pakai tools kayak Trello, Asana, atau Jira yang bisa lo akses? Atau revisi cuma lewat WhatsApp? Sistem yang baik akan punya cap untuk “revisi minor” dan mekanisme change order berbayar untuk revisi besar. Yang berantakan bakal bingung jawab, atau malah bilang, “Santai aja pak, revisi unlimited kok.” Percayalah, nggak ada yang namanya revisi unlimited. Biayanya pasti ditumpuk di harga awal atau kualitas akhir.
  1. “Setelah go live, kalau ada bug kritis di jam 9 malam atau weekend, escalation path-nya gimana?”
  • Yang Lo Cari: Realitas. Website bisa error kapan aja. Jawaban yang bagus spesifik: “Kami punya support ticketing system. Untuk bug kritis, ada nomor WhatsApp darurat yang dipegang rotation lead. Respon maksimal 1 jam, dan kami punya server monitoring 24/7.” Jawaban yang buruk: “Tenang saja, kami selalu standby.” Minta detil. Ini bukan soal nggak percaya, tapi soal professionalism.

Common Mistakes yang Sering Dilakukan Client:

  • Terpukau dengan Teknologi tanpa Tanya “Kenapa?”. “Kami akan buat pakai Headless WordPress dengan React!” Keren. Tapi kenapa? Apa manfaatnya buat business goal lo? Teknologi itu alat, bukan tujuan.
  • Mengabaikan Aspek “Manajemen Konten” ke Depan. Lo pikir urusan update teks dan foto itu sepele. Tapi kalau sistemnya ribet, lo bakal bergantung terus sama mereka, atau malah nggak di-update sama sekali. Itu sama aja bunuh website sendiri.
  • Tidak Meminta Referensi dari Klien yang Sudah Selesai. Minta kontak 1-2 klien mereka yang project-nya udah handover 6-12 bulan lalu. Tanya ke klien itu: “Bagaimana support-nya setelah live? Apakah timnya responsif?” Itu nilai sebenarnya.

Intinya, pilih web dev company itu kayak cari partner nikah. Lo nggak cuma lihat fotonya doang. Lo harus tau bagaimana cara mereka menghadapi masalah, berkomunikasi, dan menjaga komitmen jangka panjang. Portofolio cuma bukti mereka bisa finish. Proseslah yang menentukan apakah lo bisa finish dengan senyuman, atau mau pull rambut sendiri.

So, udah siap jadi detektif proses?