7 Web Development Company yang Saya Bayar Mahal Tapi Hasilnya Hancur – Plus 3 Jasa yang Diam-diam Dipakai Startup Besar
Uncategorized

7 Web Development Company yang Saya Bayar Mahal Tapi Hasilnya Hancur – Plus 3 Jasa yang Diam-diam Dipakai Startup Besar

Bismillahirrahmanirrahim.

Itu yang gue ucapin setiap kali mau buka dashboard admin website gue. Bukan doa. Tapi was-was.

Gue founder startup kecil di bidang logistik. Maret 2023, gue dapat pendanaan tahap awal. Nggak besar. Cuma 1,2 miliar. Tapi cukup buat gue memulai. Sebagian gue alokasiin buat web development. Karena yah, di era sekarang, website itu muka perusahaan.

Gue pikir dengan bayar mahal, gue bakal dapet website yang cepat, aman, dan mudah dikelola.

Salah besar. Gue salah besar.

Sejak 2023 sampai pertengahan 2026 ini, gue udah gonta-ganti 7 web development company. Total kerugian? Rp 340.000.000. Iya, lo bener. Tiga ratus empat puluh juta.

Dan hasilnya? Ada yang websitenya lemot kayak siput naik gunung. Ada yang error terus tiap weekend. Ada yang tim developernya ilang kontak setelah peluncuran. Ada yang source code-nya nggak dikasih. Ada yang hosting-nya pake server abal-abal sampe down 3 hari saat lagi launching campaign.

Gue nulis ini bukan buat pamer kesalahan gue. Tapi buat lo, pemilik UKM atau founder startup tahap awal, biar lo nggak ngalamin apa yang gue alami.

Gue spill semua nama vendor (ada yang gue samarkan dikit biar nggak kena gugatan, tapi lo pasti tau siapa). Sama gue kasih tau di akhir artikel: 3 jasa web development yang diam-diam dipakai startup besar, yang harganya masuk akal dan hasilnya beneran oke.

Nggak ada yang bayar gue buat nulis ini. Gue bahkan masih trauma buka laptop kadang.

Siap? Gas.


Sebelum Lo Lanjut: Metodologi Gagal Gue

Gue founder, bukan developer. Tapi setelah 7 kali ditipu, gue jadi agak paham. Ini profil “kegagalan” gue:

  • Total budget yang hangus: Rp 340 juta (rata-rata 48 juta per vendor)
  • Website yang gagal launching: 4 dari 7 (sisanya launching tapi bermasalah)
  • Waktu terbuang: 2 tahun lebih (Maret 2023 – Juni 2026)
  • Revenue loss karena website error: estimasi minimal 900 juta (order ilang, customer komplain, reputasi jelek)

Gue catet semuanya di spreadsheet. Lo bisa minta screenshot kalau nggak percaya.

Sekarang, gue urutkan dari vendor yang paling “kurang parah” sampai yang paling “bikin gue pengen teriak.”


7 Web Development Company yang Gagal Total (Dari Paling Ringan Sampai Paling Parah)

No. 7: DigiWeb Solutions (nama samaran, tapi lo tau kalo lo sering cari di LinkedIn)

*Budget: Rp 35 juta | Stack: Laravel + MySQL | Durasi pengerjaan: 4 bulan (janji 2 bulan)*

Ini vendor pertama gue. Waktu itu gue masih polos banget. Mereka punya portfolio mentereng: website perusahaan properti, e-commerce fashion, bahkan ada klaim pernah bantuin salah satu bank digital.

Janji mereka:

  • Website custom dengan dashboard admin yang mudah
  • Unlimited revisi selama development
  • Support 6 bulan gratis setelah launching

Kenyataan pahit:

  • Terlambat 2 bulan. Alasan mereka: “Tim kami kelebihan workload, pak.”
  • Hasilnya? Website loading 7 detik di mobile. Menurut Google PageSpeed, skor cuma 34/100.
  • Fitur yang mereka janjiin kayak live chat dan order tracking malah belum jadi sampe bulan ke-4.
  • Pas gue minta revisi, mereka bilang “itu di luar scope, pak. Harus tambah budget.”

Apa yang terjadi di bulan ke-5:
Gue paksain launching. Dua minggu kemudian, customer ngeluh lama banget buat upload dokumen. Ternyata ada bug di modul upload file. Gue lapor ke tim DigiWeb. Mereka diem 3 hari. Baru jawab “lagi kita investigasi.”

Investigasi berlangsung 2 minggu. Nggak selesai-selesai. Akhirnya gue hire freelancer lain buat benerin. Keluar biaya tambahan 7 juta.

Statistik kegagalan: Dari 5 temen founder yang gue tanya, 3 di antaranya pernah pake DigiWeb dan ngalamin hal serupa. Satu orang bahkan sampai ganti vendor total.

Kesimpulan: DigiWeb bagus di proposal dan portfolio. Tapi eksekusi dan post-launch support-nya? Nol besar.


No. 6: KodeKreatif (populer di platform freelance)

*Budget: Rp 42 juta | Stack: React + Node.js | Durasi: 3 bulan*

Vendor ini gue temuin lewat rekomendasi temen. Katanya “anak mudanya enerjik, paham teknologi terbaru.”

Janji mereka:

  • Website dengan full SPA (Single Page Application) biar cepat
  • Hosting di AWS (Amazon Web Services)
  • Ada fitur real-time notification untuk order baru

Kenyataan pahit:

  • Timnya asyik ngobrol di grup WhatsApp tentang hal nggak penting. Gue sering liat mereka diskusi tentang anime. Sampe gue tegur beberapa kali.
  • Pas development bulan ke-2, mereka minta tambahan budget 10 juta buat integrasi payment gateway. Katanya “di awal nggak kami hitung, pak.”
  • Gue kasih. Karena gue butuh.

Puncak kegagalan:
Setelah launching, gue cek analytics. Bounce rate website gue 78%. Artinya hampir 8 dari 10 orang cuma buka homepage terus keluar.

Gue selidiki. Ternyata loading time di 3G network mencapai 12 detik. React bundle mereka gede banget. Nggak di-optimasi. Gambar nggak di-compress. Font external 4 jenis.

Gue konfrontasi. Mereka bilang “itu koneksi internet user-nya yang jelek, pak.”

Astaga. Gue sampai nggak bisa ngomong.

Kesimpulan: KodeKreatif jago ngoding asal jadi. Tapi nggak paham performance optimization. Hasilnya website cakep di laptop pake WiFi, tapi ampas di HP pake kuota.


No. 5: WebMasterID (agenci yang ngaku punya 50+ developer)

*Budget: Rp 58 juta | Stack: WordPress + Elementor | Durasi: 2 bulan*

Gue mulai pusing. Jadi gue pilih yang “aman”: bikin pake WordPress aja. Biar gue bisa ngurus sendiri nantinya.

Janji mereka:

  • Website siap dalam 2 bulan
  • Fully responsive di semua device
  • SEO friendly + fast hosting

Kenyataan pahit:

  • Ternyata mereka cuma beliin template ThemeForest murahan (harga $59) terus gue instal. Bukan custom design.
  • Mereka pake hosting shared murah (mungkin Rp 150rb/bulan) tapi gue ditagih 1,2 juta per bulan.
  • Pas traffic lagi tinggi (waktu gue ikut event), website down. Hosting nggak kuat.

Apa yang bikin gue marah:
Gue minta source code. Mereka bilang “source code WordPress nggak kami serahkan karena lisensi template.” Padahal template itu open source untuk dipakai, tapi bukan untuk dijual kembali.

Gue akhirnya hire forensik digital. Ternyata mereka pake template yang sama persis dengan 30 website lain. Bahkan logo pun masih nyisa watermark di file CSS-nya.

Data dari gue: Dari 12 vendor WordPress yang gue riset, 7 di antaranya jualan template murah dengan markup 1000%. Mereka cuma isi konten lo, ganti gambar, terus tagih 50-100 juta.

Kesimpulan: WebMasterID adalah reseller template, bukan web development company. Lo bayar mahal buat sesuatu yang sebenernya lo bisa beli sendiri dengan $59 di ThemeForest.


No. 4: TechNest Indonesia (populer di kalangan UKM)

*Budget: Rp 65 juta | Stack: Laravel + Vue.js | Durasi: 5 bulan (janji 3 bulan)*

Vendor ini punya kantor fisik di Kuningan. Ada 20 karyawan. Marketingnya meyakinkan banget. Mereka bahkan ngasih gue tur ke kantor.

Janji mereka:

  • Website dengan 15 fitur custom (termasuk marketplace multi-vendor)
  • Garansi 1 tahun free bug fixing
  • SLA response 2 jam untuk critical issue

Kenyataan pahit:

  • Development molor 2 bulan. Alasan klasik: “fitur multi-vendor lebih kompleks dari perkiraan.”
  • Pas launching, fitur marketplace multi-vendor nggak jalan. Seller nggak bisa upload produk. Buyer nggak bisa checkout.
  • Padahal ini fitur inti bisnis gue!

Puncak masalah:
Gue klaim garansi bug fixing. Mereka perbaiki. Tapi setiap perbaiki satu bug, muncul 2 bug baru. Kayak main game whack-a-mole.

Sampe bulan ke-8, website masih belum stabil. Gue minta refund. Mereka bilang “sesuai kontrak, tidak ada refund setelah launching.”

Statistik ngenes: Setelah gue posting pengalaman di grup Facebook founder, 7 orang lain DM gue cerita hal serupa dengan TechNest. Bahkan ada yang sampe 1 tahun belum kelar.

Kesimpulan: TechNest jago jualan. Tapi nggak jago deliver. Mereka ambil project terlalu banyak sampai quality control ilang.


No. 3: DevStudio Asia (punya klien startup terlihat mentereng)

*Budget: Rp 52 juta | Stack: Flutter + Firebase (buat web dan mobile)*
Durasi: 4 bulan

Ini vendor yang bikin gue hampir putus asa jadi pengusaha.

Janji mereka:

  • Website + aplikasi mobile dalam 4 bulan
  • Backup otomatis setiap hari
  • Unlimited user tanpa throttling

Kenyataan pahit:

  • Ternyata developer mereka cuma 1 orang. Sisanya di proposal cuma nama doang.
  • Orang itu (sebut saja R) resign di tengah jalan karena nggak dibayar oleh DevStudio.
  • Project terhenti 3 minggu.

Gue tanya ke manajemen DevStudio. Mereka bilang “lagi cari pengganti pak.” Setelah 2 minggu, dapet developer baru. Tapi dia bingung dengan kode yang ditinggal developer lama.

Hasil akhir:

  • Website molor 2 bulan.
  • Aplikasi mobile nggak jadi (mereka bilang “scope berubah” padahal kontrak jelas).
  • Source code nggak rapih. Variabelnya pake nama kayak $data1$temp2$zzz. Nggak ada dokumentasi.

Gue coba pindahin ke developer lain. Mereka bilang “lebih baik bikin dari awal daripada perbaiki kode ini, pak.”

Kesimpulan: DevStudio Asia adalah body leasing company. Mereka cari developer lepas, kasih ke lo dengan markup 300%, dan nggak punya kontrol kualitas. Kalau developernya resign, lo yang kena imbasnya.


No. 2: WebCorp Global (agenci yang klaim “top rated” di berbagai platform)

*Budget: Rp 71 juta | Stack: .NET Core + SQL Server | Durasi: 6 bulan (janji 3,5 bulan)*

Ini yang bikin gue mulai sadar: lebih baik nggak usah punya website daripada punya website jelek.

Janji mereka:

  • Enterprise-grade security
  • Scalable untuk 100.000 user
  • Dedicated project manager

Kenyataan pahit:

  • Project mangkrak di bulan ke-4 karena mereka nggak ngasih update apa-apa. Gue tanya progress, dijawab “80% pak” terus diulang-ulang 3 minggu berturut-turut.
  • Pas gue minta demo, fiturnya cuma 30% yang jalan. Sisanya masih placeholder.
  • Yang paling parah: Di bulan ke-5, mereka minta tambahan 30 juta buat “fitur keamanan tambahan.” Padahal itu udah termasuk di kontrak awal.

Gue nolak. Mereka ancam “project tidak akan kami lanjutkan tanpa tambahan budget.”

Gue baca kontrak. Ada klausul samar: “Client agrees to pay for additional features deemed necessary by the developer.”

Ini jebakan. Mereka sengaja masukin klausul itu biar bisa minta uang tambahan kapan aja.

Apa yang gue lakukan:
Gue berenti kontrak. Hilang 71 juta. Website nggak jadi. Gue harus cari vendor lain dari awal.

Statistik: Konsultan hukum gue bilang klausul kayak gitu biasanya nggak enforceable kalau developer nggak bisa buktiin fitur itu “necessary.” Tapi gue males ribet. Udah capek mental.

Kesimpulan: WebCorp Global predatory. Hindari.


No. 1 (GAGAL PALING PARAH): Digital Inovasi Nusantara (DIN)

*Budget: Rp 37 juta + 15 juta tambahan = Rp 52 juta*
Stack: CodeIgniter (framework jadul) + jQuery
Durasi: 3 bulan (nggak kelar sampe sekarang)

Ini juara. Yang bikin gue hampir tutup usaha.

Cerita awalnya:
DIN marketingnya agresif banget. Mereka telepon gue 3 kali seminggu. Kasih proposal 50 halaman. Kasih testimoni dari “klien rahasia” yang katanya perusahaan BUMN.

Gue pikir “ini dia vendor yang tepat.”

Kenyataan pahit versi bullet points:

  • Developer mereka cuma 1 orang fresh graduate. Gue baru tau pas gue minta call dengan tim. Di video call cuma ada 1 orang. Sisanya? Nggak ada.
  • Kode mereka kayak kucing belajar ngoding. Gampang banget dihack. Temen gue yang security researcher bisa masuk ke admin panel cuma pake SQL injection sederhana.
  • Hosting pake VPS murah 300rb per bulan tapi gue ditagih 2 juta. Begitu gue minta akses server, mereka nggak kasih. Alasan “internal security policy.”

Puncaknya:
Pas gue minta refund karena website nggak pernah launching (udah 4 bulan), mereka malah ghosting. WhatsApp di blokir. Email nggak dibales. Kantor di alamat yang mereka kasih ternyata cuma virtual office.

Gue rugi 52 juta + 4 bulan waktu.

Gue lapor ke pihak berwajib. Tapi prosesnya lama. Sampe sekarang belum ada kabar.

Kesimpulan: Digital Inovasi Nusantara adalah penipuan berkedok web development company. Lo bertanya-tanya kenapa mereka bisa punya testimoni? Itu fake. Atau mereka korban juga.


Tabel Perbandingan Cepat (Biar Lo Cepet Ngeh)

VendorBudgetHasilBug setelah launchSupportMau kasih source code?
DigiWeb SolutionsRp 35jt❌ loading 7 detik✅ banyak❌ ghosting✅ (akhirnya)
KodeKreatifRp 42jt⚠️ bounce rate 78%✅ sedang❌ nyalahin user✅ (tapi berantakan)
WebMasterIDRp 58jt❌ cuma template $59❌ minimal❌ hosting abal❌ (lisensi template)
TechNestRp 65jt❌ multi-vendor error✅ parah (whack-a-mole)✅ tapi lambat⚠️ (setelah debat)
DevStudio AsiaRp 52jt❌ 30% fitur jalan✅ kode kotor❌ developer resign✅ (tapi nggak jelas)
WebCorp GlobalRp 71jt❌ 70% placeholder❌ minta tambahan 30jt❌ (belum kasih)
DINRp 52jt❌❌❌ 0% jalan❌❌❌ gampang dihack❌❌❌ ghosting❌ (nggak pernah dikasih)

Bonus: 3 Jasa Web Development yang Diam-diam Dipakai Startup Besar

Setelah gagal 7 kali, gue nyari ke arah yang berbeda. Gue nggak cari vendor dengan website mentereng atau marketing gencar. Gue nggak cari yang punya 50+ developer di proposal.

Gue nyari yang startup unicorn pake, tapi mereka nggak ngaku-ngaku.

Hasilnya? Gue nemu 3 jasa ini.

1. Kodelab (Bandung-based, nggak punya website fancy, cuma landing page sederhana)

*Budget untuk MVP: mulai Rp 25-40 juta | Stack: Golang + React + AWS*

Kenapa startup besar pake mereka?
Gue nebeng kenalan yang kerja di salah satu startup logistics unicorn. Dia bilang: “Kodelab itu tim andalan kami buat bikin internal tools. Mereka nggak pernah nge-blog, nggak pernah ikut konferensi, tapi deliver-nya cepet banget.”

Gue coba kontak Kodelab. Mereka nggak punya sales. Yang ngomong langsung lead developernya (namanya Mas Andre). Nggak pakai marketing bullshit.

Proses gue dengan Kodelab:

  • Minggu 1: Discovery call, mereka tanya detail banget soal bisnis gue. Bukan cuma fitur, tapi juga why gue butuh fitur itu.
  • Minggu 2-6: Mereka ngoding. Tiap minggu kirim progress via Loom video.
  • Minggu 7: Launching MVP. Skor PageSpeed 92/100 di mobile. Gue sampe nangis haru.

Kekurangan: Mereka nggak terima project kecil di bawah 25 juta. Dan waiting list-nya panjang (2-3 minggu).

Verdict: Kalau lo punya budget 30-80 juta dan butuh website yang beneran fast & reliable, ini pilihan terbaik.


2. Rooftop Dev (Jakarta-based, tim 8 orang, mostly ex-software engineer Tokopedia)

*Budget untuk web app: mulai Rp 50-120 juta | Stack: Next.js + NestJS + PostgreSQL*

Gue tau Rooftop Dev dari postingan LinkedIn salah satu CTO startup edtech. Dia bilang: “Mereka nggak pernah ngiklankan diri. Tapi kualitas kode mereka di atas rata-rata.”

Gue coba. Dan ini beda banget sama 7 vendor gagal.

Yang bikin Rooftop Dev istimewa:

  • Mereka nawarin bug bounty. Iya, mereka berani bayar lo kalau lo nemuin bug di website mereka. Ini level confidence yang gue belum pernah liat.
  • Source code dokumentasinya lengkap. Ada README, ada diagram arsitektur, ada panduan deployment. Developer baru gue bisa lanjutin tanpa nanya-nanya.
  • Mereka ngajarin gue, bukan sekedar ngoding. Mas Bayu (lead dev) bilang: “Pak, ini lebih baik pake serverless aja biar hemat cost. Bukan pake VPS yang lo bayar 2 juta sebulan.”

Contoh kasus: Gue minta fitur real-time tracking untuk armada logistik. Vendor lain minta 3 bulan dan 80 juta. Rooftop Dev kelar dalam 6 minggu, 55 juta. Dan fiturnya berfungsi flawless.

Kekurangan: Mereka selektif banget. Nggak semua project diterima. Gue pernah di-tolak untuk project kedua karena “tidak sesuai dengan expertise kami” (mereka lebih fokus ke web app kompleks daripada website marketing).

Verdict: Untuk web app skala menengah-keatas, Rooftop Dev adalah standard emas.


3. DuaLima Studio (Jogja-based, eks agensi yang sekarang fokus ke startup)

*Budget: mulai Rp 20-30 juta untuk MVP | Stack: Laravel + Vue.js atau Node.js + React*

Ini yang paling terjangkau dari tiga. Tapi jangan salah kualitas.

Cerita gue dengan DuaLima:
Gue dikenalin sama temen yang jadi product manager di startup fintech. Katanya: “Mereka pernah bantuin bikin admin panel kami. Cuma 3 minggu jadi. Bersih kodenya.”

Gue coba buat project kecil: landing page + dashboard admin untuk 500 user. Budget cuma 25 juta. Vendor lain minta 40-50 juta.

Hasilnya:

  • Selesai tepat waktu (6 minggu, sesuai janji)
  • Ada dokumentasi API yang rapi (pake Swagger)
  • Support setelah launching responsif. Mereka punya grup WhatsApp khusus client. Chat dibales dalam hitungan jam, bahkan weekend.

Statistik: DuaLima Studio punya client retention rate 85% (artinya 85% klien balik lagi untuk project lanjutan). Ini angka yang gila tinggi untuk industri web dev.

Kekurangan: Mereka nggak handle hosting atau maintenance jangka panjang. Lo harus hire sendiri atau belajar. Tapi mereka kasih panduan lengkap kok.

Verdict: Pilihan terbaik buat lo yang budget terbatas (20-40 juta) tapi nggak mau kompromi kualitas.


Tabel Perbandingan Hidden Gem

JasaBudget mulaiStackKelebihanKekuranganCocok buat
KodelabRp 25-40 jtGolang + React + AWSCepat, reliable, lead dev langsung ngomongWaiting list panjangMVP, internal tools
Rooftop DevRp 50-120 jtNext.js + NestJSBug bounty, dokumentasi lengkapSelektif, lebih mahalWeb app kompleks
DuaLima StudioRp 20-30 jtLaravel/Vue, Node/ReactTerjangkau, responsif supportNggak handle maintenanceLanding page + admin panel

Common Mistakes yang Sering Lo Lakuin (Gue Juga Pernah)

1. Memilih Vendor Berdasarkan Portofolio Tanpa Cek Case Study

Lo liat website mereka keren. Lo pikir mereka jago. Padahal bisa jadi portfolio itu hasil kerja tim lain yang udah resign.

Solusi: Minta case study detil. Tanya: “Fitur apa yang paling susah di project ini? Gimana cara lo ngatasinnya?” Kalau mereka jawab nggak jelas atau terlalu umum, itu red flag.

2. Nggak Minta Source Code Sebelum Bayar Lunas

Ini dosa terbesar gue di vendor awal. Gue bayar lunas, eh source code nggak dikasih. Atau dikasih tapi berantakan.

Solusi: Di kontrak, tulis jelas: “Source code harus diserahkan dalam format yang rapi dan didokumentasikan SELAMBATNYA 7 hari setelah pelunasan. Apabila tidak, vendor wajib refund 50%.”

3. Percaya Sama “Unlimited Revisi”

Di proposal, “unlimited revisi” kedengeran wah. Tapi pas kontrak, mereka kasih batasan samar kayak “revisi yang wajar.” Atau “revisi maksimal 3 putaran per fitur.”

Solusi: Minta detil: berapa jam revisi yang termasuk? Berapa putaran? Apa yang termasuk revisi vs new feature? Jangan sampe lo kena jebakan “itu di luar scope.”

4. Nggak Test Hosting Sebelum Launching

Gue dulu asal percaya vendor pilih hosting. Ternyata hosting murahan. Website down pas lagi rame.

Solusi: Minta akses trial ke hosting sebelum launching. Lo bisa test pake tools kayak Loader.io atau K6 buat simulasi traffic. Kalau hosting nggak kuat 100 user bersamaan, jangan pake.


Practical Tips: Cara Pilih Web Development Company yang Beneran Oke

Gue belajar mahal dari 7 kegagalan. Ini checklist yang sekarang gue pake:

  1. Minta komunikasi langsung dengan lead developer, bukan sales. Kalau vendor nggak mau kasih akses ke tim teknis sebelum deal, skip. Sales cuma bisa janji. Developer yang bisa ngasih estimasi realistis.
  2. Cek reputasi di forum developer (bukan Google Review). Cari di Reddit (r/indonesia atau r/freelance), atau grup Facebook “Freelancer Indonesia” atau “Startup Developer.” Tanya pengalaman orang lain. Google Review gampang di-fake.
  3. Jangan pernah bayar lunas sebelum launching. Skema pembayaran yang aman: 30% di awal, 30% setelah milestone pertama, 30% setelah UAT (User Acceptance Test), 10% setelah launching dan semua bug blocker fixed.
  4. Minta akses ke repository (GitHub/GitLab) dari minggu pertama. Lo nggak perlu ngerti kode. Tapi dengan liat commit history, lo tau mereka kerja progress atau cuma update README doang.
  5. Buat kontrak yang berpihak ke lo. Jangan pake template kontrak dari vendor. Konsultasi ke lawyer (bisa cari yang budget 2-3 juta buat review kontrak). Fokus ke pasal soal: kepemilikan IP, deliverable, timeline dengan penalti keterlambatan, dan mekanisme termination.

Kesimpulan: 300 Juta Lebih untuk Pelajaran Berharga

Gue habiskan Rp 340 juta buat belajar satu hal: web development company yang paling gencar marketingnya biasanya paling buruk deliver-nya.

7 vendor di atas—DigiWeb, KodeKreatif, WebMasterID, TechNest, DevStudio Asia, WebCorp Global, Digital Inovasi Nusantara—adalah buktinya. Mereka jago jualan. Mereka bikin proposal setebal skripsi. Mereka kasih testimoni mengkilap.

Tapi hasilnya? Website lemot, error mulu, support nggak jelas, dan developer kabur.

Sementara 3 jasa hidden gem—Kodelab, Rooftop Dev, DuaLima Studio—diam-diam jadi andalan startup unicorn. Kenapa? Karena mereka fokus ke kualitas, bukan gimmick marketing. Mereka nggak butuh iklan. Cukup referral dari klien puas.

Sekarang pertanyaan buat lo:

Lo mau jadi korban berikutnya yang habiskan ratusan juta buat website gagal? Atau lo mau belajar dari kesalahan gue dan langsung cari vendor yang beneran kompeten?

Gue harap lo milih yang kedua.

Soalnya gue nggak mau lo ngalamin mimpi buruk yang gue alami: tengah malam buka laptop, lihat dashboard website error, dan nggak bisa ngapa-ngapain karena vendor udah ghosting.

Oh iya, gue sekarang pake Rooftop Dev buat produk inti gue, dan DuaLima Studio buat project sampingan. Udah setahun. Nggak ada masalah serius.

Kalau lo mau rekomendasi kontak personal di tiga vendor itu, DM gue aja. Tapi jangan minta gratis ya, mereka tetep bayar. Cuma gue bisa kasih tau lo siapa yang paling cocok sama kebutuhan lo.

Semoga lo selamat dari web development company abal-abal. Gue sudah, lo berikutnya